Program

PSDS

Hampir 25% populasi ternak sapi potong berada di Jawa Timur, dan sebagian besar merupakan usaha peternakan rakyat, sehingga keberhasilan program P2SDS di Jawa Timur memperlihatkan keberhasilan secara nasional. Keberhasilan program P2SDS membutuhkan dukungan inovasi teknologi produksi tepat guna spesifik lokasi. Sebagai institusi pusat di daerah, BPTP Jawa Timur berkewajiban mendukung pelaksanaan program tersebut melalui penyiapan dan mengapresiasikan teknologi, diikuti dengan demplot dan bimbingan penerapannya, termasuk dukungan sistem kelembagaannya bagi komunitas masyarakat peternak sapi potong, terutama peternak sapi potong rakyat.


SLPTT

Selama ini lahan sawah menjadi fokus peningkatan produksi padi, dimana luasan sawah di Jawa terus mengalami penciutan untuk keperluan non pertanian yang mencapai 54.716 ha/tahun, sedangkan kebutuhan beras terus meningkat. Terjadinya reduksi luasan sawah dan menurunnya kesuburan tanah, maka dapat diupayakan peningkatan produksi melalui intensifikasi dengan pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) padi, sedangkan lahan sawah intensif yang mempunyai pengairan teknis, intensitas tanam dapat dtingkatkan dari sebelumnya yaitu IP Padi 300 menjadi IP Padi 400 dengan menggunakan VUB berumur super genjah-genjah. Peluang peningkatan produksi padi dapat juga dilakukan di lahan kering dan PHBM melalui perluasan areal (ekstensifikasi) dengan mengembangan padi gogo dalam satu kesatuan pola tanam. Penerapan pola tanam berbasis padi gogo (tumpangsari) diperoleh hasil padi gogo 3,8 t/ha GKG.

 

PUAP

Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan. Jumlah desa PUAP di Jawa Timur Tahun 2008 yang ditetapkan berdasarkan Pemetaan Nomor 227/Kpts/KU.304/3/2008 Tentang Penetapan Desa Penerima Dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), dan diperbaiki lagi melalui kepmentan No. 691/Kpts/KU.340/5/2008 adalah sebanyak 987 desa.

 

 

 

Diseminasi

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah banyak menghasilkan varietas unggul baru hortikultura termasuk bawang merah, kentang, krisan dan sedap malam. Varietas unggul baru akan cepat berkembang jika didukung percepatan diseminasinya. Percepatan diseminasi varietas unggul hortikultura termasuk bawang merah, kentang, krisan dan sedap malam selalu berhubungan dengan ketersediaan benih.   BPTP Jawa Timur dalam hal ini telah melepas Untuk itu perbanyakan secara massal perbenihan bawang merah, kentang dan krisan perlu didukung untuk menghasilkan benih unggul bersertifikat yang diperkuat dengan kelembagaan perbenihan yang mantap.

 

Kawasan hoorti

Komoditas hortikultura tergolong komoditas bernilai tinggi dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi wilayah. Produksi komoditas hortikultura tahun 2000-2005 mengalami kemajuan yang berarti, yaitu meningkat sebesar rata-rata 6,30 persen per tahun (Dirjen Hortikultura, 2005). Namun fakta juga menunjukkan perkembangan dunia usaha hortikultura masih jauh dari potensi keunggulan komparatifnya, baik dalam arus kegiatan bisnis riilnya maupun dalam menyumbang kepada kesejahteraan masyarakat petani/pengusaha produsen pada umumnya. Kecepatan pertumbuhan subsektor hortikultura (teknologi, mutu, daya saing) yang cukup baik yang dicapai melalui kinerja berbagai stake holders terkait masih belum mampu mengimbangi atau menandingi negara-negara kompetitor seperti Thailand, Philipina, Taiwan, China, India, Pakistan, Australia dan lainnya. Oleh karena itu strategi pengembangan produksi hortikultura diarahkan pada peningkatan mutu produk dan penanganan pasca panen.